WhatsApp Image 2026 04 08 At 11.12.27

PMI Gelar Pelatihan Hidrometeorologi, Perkuat Analisis Risiko Bencana Berbasis Data

KOTA SUKABUMI – Palang Merah Indonesia (PMI) terus memperkuat kapasitas relawan dalam menghadapi risiko bencana hidrometeorologi melalui kegiatan Pelatihan Hidrometeorologi dan Perhitungan Neraca Air yang dilaksanakan pada 6–8 April 2026 di Sukabumi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Pilot Riset Project ORC (Open River Cam) yang didukung oleh PMI Pusat bersama Palang Merah Amerika (American Red Cross). Pelatihan ini menjadi yang pertama kali diselenggarakan PMI di Indonesia dengan fokus pada penguatan pemahaman teknis hidrologi, analisis data, serta keterkaitannya dengan upaya pengurangan risiko bencana.

 

 

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, PMI juga menjalin kerja sama dengan IPB University dengan menghadirkan narasumber ahli di bidang hidrologi, yaitu Prof. Dr. Muh. Taufik, S.Si., M.Si., Guru Besar pada Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB. Kehadiran beliau memberikan penguatan materi secara komprehensif, khususnya dalam memahami konsep hidrometeorologi, neraca air, serta analisis ilmiah terhadap potensi risiko bencana berbasis data lingkungan.

Dalam sambutan pembukaan, Ketua PMI Kota Sukabumi, Suranto Sumowiryo, menyampaikan apresiasi dan menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah maju bagi PMI dalam meningkatkan kapasitas relawan.

 

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena menjadi pelatihan perdana yang dilaksanakan PMI di Indonesia dalam bidang hidrometeorologi. Ini merupakan yang pertama bagi PMI se-Indonesia, dan menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemampuan relawan tidak hanya dalam respon, tetapi juga dalam analisis risiko bencana berbasis data,” ungkapnya.

Perwakilan PMI Pusat, Dewi Ariyani selaku Kepala Sub Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Divisi Penanggulangan Bencana Markas PMI Pusat, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen PMI dalam memperkuat pendekatan pengurangan risiko bencana berbasis data dan ilmu pengetahuan.

“Pelatihan ini menjadi langkah penting dalam mendorong transformasi kapasitas relawan PMI agar lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam menghadapi risiko hidrometeorologi yang semakin meningkat akibat perubahan iklim,” jelasnya.

Perwakilan Palang Merah Amerika (Amcross), Teguh Wibowo, juga menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan kegiatan ini sebagai bagian dari kolaborasi mendukung PMI dalam penguatan kapasitas kemanusiaan.

 

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kapasitas relawan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Kami berharap pelatihan ini dapat menjadi model pengembangan ke depan dan direplikasi di wilayah lain,” ujarnya.

Peserta pelatihan yang diikuti oleh relawan PMI, juga melibatkan berbagai mitra dan pemangku kepentingan terkait, di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PSDA Jawa Barat, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Bidang Sumber Daya Air, serta komunitas penggiat kebencanaan dan sungai. Keterlibatan lintas sektor ini diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam upaya pengurangan risiko bencana berbasis kolaborasi.

Pada sesi pembelajaran di kelas, peserta mendapatkan pemahaman terkait konsep dasar hidrometeorologi, mulai dari siklus hidrologi, curah hujan, hingga proses infiltrasi atau penyerapan air ke dalam tanah sebagai salah satu indikator penting dalam memahami potensi banjir dan kekeringan.

Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti praktik lapangan untuk mengukur daya serap tanah menggunakan metode double ring infiltrometer. Melalui praktik ini, relawan dapat memahami secara langsung kondisi lapangan serta melakukan pengukuran berbasis metode ilmiah.

Salah satu fasilitator dari IPB University menyampaikan bahwa kemampuan membaca karakteristik lingkungan menjadi hal penting dalam upaya mitigasi bencana.

“Relawan tidak hanya dituntut sigap dalam respon darurat, tetapi juga harus memiliki kemampuan analisis risiko berbasis data. Pelatihan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas tersebut,” ujarnya.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya PMI dalam menjawab tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks. Data hasil pengukuran di lapangan diharapkan dapat menjadi dasar dalam perencanaan program pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.

Ke depan, hasil dari pelatihan dan riset ini juga akan terintegrasi dengan teknologi pemantauan seperti Open River Cam, sehingga mampu mendukung sistem peringatan dini yang lebih akurat dan efektif dalam upaya mengelola risiko bencana.

Melalui kegiatan ini, PMI berharap para relawan dapat menjadi garda terdepan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan serta memperkuat ketangguhan dalam menghadapi bencana.

 

PMI Gelar Pelatihan Hidrometeorologi, Perkuat Analisis Risiko Bencana Berbasis Data

KOTA SUKABUMI – Palang Merah Indonesia (PMI) terus memperkuat kapasitas relawan dalam menghadapi risiko bencana hidrometeorologi melalui kegiatan Pelatihan Hidrometeorologi dan Perhitungan Neraca Air yang dilaksanakan pada 6–8 April 2026 di Sukabumi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Pilot Riset Project ORC (Open River Cam) yang didukung oleh PMI Pusat bersama Palang Merah Amerika (American Red Cross). Pelatihan ini menjadi yang pertama kali diselenggarakan PMI di Indonesia dengan fokus pada penguatan pemahaman teknis hidrologi, analisis data, serta keterkaitannya dengan upaya pengurangan risiko bencana.

 

 

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, PMI juga menjalin kerja sama dengan IPB University dengan menghadirkan narasumber ahli di bidang hidrologi, yaitu Prof. Dr. Muh. Taufik, S.Si., M.Si., Guru Besar pada Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB. Kehadiran beliau memberikan penguatan materi secara komprehensif, khususnya dalam memahami konsep hidrometeorologi, neraca air, serta analisis ilmiah terhadap potensi risiko bencana berbasis data lingkungan.

Dalam sambutan pembukaan, Ketua PMI Kota Sukabumi, Suranto Sumowiryo, menyampaikan apresiasi dan menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah maju bagi PMI dalam meningkatkan kapasitas relawan.

 

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena menjadi pelatihan perdana yang dilaksanakan PMI di Indonesia dalam bidang hidrometeorologi. Ini merupakan yang pertama bagi PMI se-Indonesia, dan menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemampuan relawan tidak hanya dalam respon, tetapi juga dalam analisis risiko bencana berbasis data,” ungkapnya.

Perwakilan PMI Pusat, Dewi Ariyani selaku Kepala Sub Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Divisi Penanggulangan Bencana Markas PMI Pusat, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen PMI dalam memperkuat pendekatan pengurangan risiko bencana berbasis data dan ilmu pengetahuan.

“Pelatihan ini menjadi langkah penting dalam mendorong transformasi kapasitas relawan PMI agar lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam menghadapi risiko hidrometeorologi yang semakin meningkat akibat perubahan iklim,” jelasnya.

Perwakilan Palang Merah Amerika (Amcross), Teguh Wibowo, juga menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan kegiatan ini sebagai bagian dari kolaborasi mendukung PMI dalam penguatan kapasitas kemanusiaan.

 

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kapasitas relawan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Kami berharap pelatihan ini dapat menjadi model pengembangan ke depan dan direplikasi di wilayah lain,” ujarnya.

Peserta pelatihan yang diikuti oleh relawan PMI, juga melibatkan berbagai mitra dan pemangku kepentingan terkait, di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PSDA Jawa Barat, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Bidang Sumber Daya Air, serta komunitas penggiat kebencanaan dan sungai. Keterlibatan lintas sektor ini diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam upaya pengurangan risiko bencana berbasis kolaborasi.

Pada sesi pembelajaran di kelas, peserta mendapatkan pemahaman terkait konsep dasar hidrometeorologi, mulai dari siklus hidrologi, curah hujan, hingga proses infiltrasi atau penyerapan air ke dalam tanah sebagai salah satu indikator penting dalam memahami potensi banjir dan kekeringan.

Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti praktik lapangan untuk mengukur daya serap tanah menggunakan metode double ring infiltrometer. Melalui praktik ini, relawan dapat memahami secara langsung kondisi lapangan serta melakukan pengukuran berbasis metode ilmiah.

Salah satu fasilitator dari IPB University menyampaikan bahwa kemampuan membaca karakteristik lingkungan menjadi hal penting dalam upaya mitigasi bencana.

“Relawan tidak hanya dituntut sigap dalam respon darurat, tetapi juga harus memiliki kemampuan analisis risiko berbasis data. Pelatihan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas tersebut,” ujarnya.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya PMI dalam menjawab tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks. Data hasil pengukuran di lapangan diharapkan dapat menjadi dasar dalam perencanaan program pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.

Ke depan, hasil dari pelatihan dan riset ini juga akan terintegrasi dengan teknologi pemantauan seperti Open River Cam, sehingga mampu mendukung sistem peringatan dini yang lebih akurat dan efektif dalam upaya mengelola risiko bencana.

Melalui kegiatan ini, PMI berharap para relawan dapat menjadi garda terdepan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan serta memperkuat ketangguhan dalam menghadapi bencana.

 

Scroll to Top