KOTA SUKABUMI – Upaya meningkatkan kapasitas relawan dalam memahami risiko bencana hidrometeorologi terus dilakukan. Salah satunya melalui praktik langsung pengukuran daya serap tanah atau uji infiltrasi, yang digelar dalam rangkaian pelatihan hidrologi dan penghitungan neraca air.
Kegiatan ini melibatkan relawan PMI dan peserta dari stakeholder yang secara langsung mempraktikkan penggunaan alat double ring infiltrometer, yakni alat berbentuk dua cincin logam untuk mengukur seberapa cepat air meresap ke dalam tanah.

Dalam praktik tersebut, peserta mengisi air ke dalam dua cincin yang ditanam di tanah. Cincin bagian luar berfungsi menahan aliran air agar tidak menyebar, sementara cincin bagian dalam menjadi fokus utama pengukuran laju infiltrasi.
Guru Besar pada Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Prof. Dr. Muh. Taufik, S.Si., M.Si menyampaikan bahwa kemampuan membaca karakteristik tanah menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana, khususnya banjir dan kekeringan.
“Melalui praktik ini, relawan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengukur langsung kondisi lapangan. Ini sangat penting untuk mendukung aksi berbasis data,” ujarnya.

Proses infiltrasi merupakan komponen kunci yang menjembatani siklus hidrologi dengan pengelolaan risiko bencana, karena menentukan seberapa besar curah hujan akan diserap oleh tanah atau berubah menjadi limpasan yang berpotensi memicu banjir, longsor, dan degradasi lingkungan. Infiltrasi yang baik dapat menurunkan puncak debit, memperlambat respons sungai terhadap hujan, serta mengisi cadangan air tanah, sehingga secara langsung mengurangi tingkat bahaya dan kerentanan bencana hidrometeorologi serta meningkatkan ketahanan wilayah terhadap kekeringan.
Oleh karena itu, integrasi pemahaman infiltrasi ke dalam pengelolaan risiko bencana perlu dilakukan secara menyeluruh—mulai dari perencanaan tata ruang, mitigasi berbasis alam, hingga sistem peringatan dini. Pendekatan ini menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana tidak hanya bergantung pada pengendalian air di sungai, tetapi juga pada pengelolaan lanskap dan tanah agar mampu menyerap air secara optimal dan aman, sehingga mendukung keselamatan masyarakat dan keberlanjutan sumber daya air.

Pelatihan ini merupakan bagian dari penguatan kapasitas relawan PMI dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin kompleks. Data hasil pengukuran infiltrasi dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan program pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari pengembangan inovasi pemantauan lingkungan, termasuk integrasi dengan teknologi seperti sistem pemantauan sungai dan curah hujan.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan relawan PMI semakin siap dalam melakukan analisis risiko serta memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga daya resap tanah sebagai upaya pencegahan bencana.

Diberitakan sebelumnya, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota sukabumi menggelar kegiatan Pelatihan Hidrometeorologi dan Perhitungan Neraca Air yang dilaksanakan pada 6–8 April 2026 di Sukabumi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Pilot Riset Project ORC (Open River Cam) yang didukung oleh PMI Pusat bersama Palang Merah Amerika (American Red Cross). Pelatihan ini menjadi yang pertama kali diselenggarakan PMI di Indonesia dengan fokus pada penguatan pemahaman teknis hidrologi, analisis data, serta keterkaitannya dengan upaya pengurangan risiko bencana.




