KOTA SUKABUMI– Palang Merah Indonesia (PMI) memperkuat kapasitas relawan dan para pemangku kepentingan dalam mengantisipasi bencana hidrometeorologi melalui peningkatan pemahaman terhadap data iklim dan sistem peringatan dini.
Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan Analisis Data Iklim dan Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) selama dua hari yang diselenggarakan PMI Kota Sukabumi sebagai bagian dari Open RiverCam Pilot Research, dengan dukungan Palang Merah Amerika (American Red Cross)
Pelatihan difokuskan pada peningkatan kemampuan peserta dalam memahami informasi iklim, mengidentifikasi potensi risiko bencana, serta menerjemahkan data pemantauan menjadi langkah kesiapsiagaan dan tindakan dini.
Peserta berasal dari berbagai tingkatan jaringan PMI, mulai dari PMI Kota Sukabumi, PMI Kabupaten Cianjur, PMI Provinsi Jawa Barat, PMI Pusat, hingga Perwakilan Palang Merah Amerika.
Kegiatan tersebut juga melibatkan perwakilan mitra strategis dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR), serta guru dari sekolah-sekolah yang telah dilengkapi perangkat pemantauan curah hujan
Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara organisasi kemanusiaan, pemerintah, pengelola sumber daya air, institusi pendidikan, dan masyarakat dalam membangun sistem peringatan dini yang efektif.

Pelatihan menghadirkan dua pakar dari IPB University yakni Prof. Dr. Muh. Taufik, S.Si., M.Si., Guru Besar Hidrologi pada Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, serta I Putu Santikayasa, PhD, peneliti Departemen Geofisika dan Meteorologi sekaligus Direktur Center for Climate Risk and Opportunity Management in Southeast Asia and Pacific (CCROM-SEAP).
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari karakteristik berbagai jenis bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga cuaca ekstrem.
Prof. Muh. Taufik menjelaskan bahwa setiap jenis bencana memiliki karakteristik dan faktor pemicu yang berbeda. Pemahaman terhadap perbedaan tersebut dinilai penting agar langkah kesiapsiagaan dapat disesuaikan dengan risiko yang dihadapi masyarakat.

Akumulasi curah hujan yang tinggi dalam periode tertentu, misalnya, dapat meningkatkan risiko banjir. Sementara hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat memperbesar limpasan permukaan dan memicu banjir bandang.
Hujan yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat meningkatkan tingkat kejenuhan tanah sehingga memperbesar potensi terjadinya longsor.
“Memahami karakteristik bencana penting agar kita tidak hanya merespons ketika bencana terjadi, tetapi juga mampu mengenali potensi ancaman sejak lebih awal,” kata Prof. Muh. Taufik
Ia juga memperkenalkan konsep bankfull flow, yaitu kondisi ketika muka air telah mendekati kapasitas maksimum saluran sungai.
Ketika debit sungai melebihi kapasitas tersebut, air dapat meluap ke wilayah dataran banjir di sekitarnya.
Menurutnya, pemantauan curah hujan tidak dapat dipisahkan dari kondisi sungai serta karakteristik daerah aliran sungai di sekitarnya.

Peserta juga mempelajari karakteristik kekeringan yang dapat muncul akibat defisit curah hujan dalam jangka panjang dan selanjutnya berdampak pada ketersediaan air bagi masyarakat.
Pendekatan serupa juga diperlukan dalam menilai risiko kebakaran hutan dan lahan serta cuaca ekstrem. Kondisi atmosfer, suhu, kelembapan, curah hujan, dan ketersediaan bahan yang mudah terbakar dapat saling berinteraksi dan meningkatkan potensi bencana.
Mengubah Data Iklim Menjadi Peringatan Dini
I Putu Santikayasa, PhD, memberikan materi mengenai penerapan Sistem Peringatan Dini berbasis informasi curah hujan. Ia menekankan bahwa pengumpulan data iklim saja belum cukup. Data tersebut perlu diolah dan diterjemahkan menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan.
“Data iklim perlu diterjemahkan menjadi informasi yang dapat mendukung pengambilan keputusan. Hal ini merupakan bagian penting dari sistem peringatan dini yang efektif,” kata I Putu Santikayasa.
Menurutnya, sistem peringatan dini tidak hanya bergantung pada keberadaan alat pemantauan. Sistem tersebut mencakup rangkaian proses yang saling terhubung, mulai dari pemantauan, analisis data, penyebaran peringatan, komunikasi risiko, hingga tindakan dini.
Peralatan pemantauan curah hujan yang dipasang di sejumlah sekolah di Sukabumi diharapkan dapat menjadi bagian dari jaringan pengamatan lokal untuk memberikan informasi tambahan mengenai kondisi hujan dan cuaca.
Keterlibatan guru dalam kegiatan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya pemeliharaan dan pemanfaatan perangkat pemantauan.
Data yang dihasilkan dari peralatan tersebut nantinya dapat menjadi informasi tambahan bagi lembaga dan pihak terkait dalam menilai kemungkinan terjadinya banjir, longsor, atau bencana hidrometeorologi lainnya.
Menghubungkan Data Ilmiah dengan Masyarakat
Program tersebut juga menekankan pentingnya menghubungkan informasi ilmiah dengan kondisi nyata di lapangan.

Relawan PMI memiliki peran dalam membantu menerjemahkan informasi teknis mengenai iklim dan risiko bencana menjadi pesan yang lebih mudah dipahami dan ditindaklanjuti oleh masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah, pengelola sumber daya air, sekolah, dan pemangku kepentingan lainnya dapat berkontribusi melalui kegiatan pemantauan, analisis, koordinasi, serta pengambilan keputusan.
Kolaborasi antara PMI, American Red Cross, IPB University, instansi pemerintah, dan lembaga pendidikan diharapkan dapat mendorong pendekatan Kesiapsiagan Bencana yang lebih berbasis data.
Informasi curah hujan dari berbagai titik pemantauan dapat dianalisis dan dibagikan kepada pihak terkait sebagai bahan tambahan dalam meningkatkan kesiapsiagaan ketika risiko banjir, longsor, kekeringan, atau bencana lainnya mulai meningkat.
Bencana hidrometeorologi masih menjadi salah satu ancaman yang dihadapi banyak wilayah, sehingga kemampuan memahami dan memanfaatkan informasi iklim menjadi semakin penting.
Melalui pelatihan ini, PMI berupaya meningkatkan kapasitas relawan dan mitra dalam menggunakan informasi iklim untuk pemantauan risiko, penyusunan rencana kesiapsiagaan, penyebaran peringatan dini, serta pengambilan keputusan di tingkat masyarakat.
Pada akhirnya, sistem peringatan dini diharapkan tidak berhenti pada proses pengumpulan data semata.
Data curah hujan perlu diolah menjadi informasi, informasi diterjemahkan menjadi peringatan, dan peringatan tersebut harus dapat mendorong tindakan dini sebelum potensi bahaya berkembang menjadi bencana.




