KOTA SUKABUMI— Upaya membangun budaya aman dan kesiapsiagaan bencana sejak usia dini terus diperkuat Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi. Bekerja sama dengan Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kota Sukabumi, PMI menggelar Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bagi anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Untuk minggu ini menyasar PAUD di wilayah di Kecamatan Baros yang diikuti oleh PAUD Laa Tahzan dan PAUD Ar Rahman, dengan melibatkan sekitar 65 siswa/i PAUD. Edukasi SPAB dikemas secara interaktif dan ramah anak melalui metode bermain sambil belajar, simulasi sederhana agar materi mudah dipahami

Materi yang disampaikan meliputi pengenalan jenis bencana di lingkungan sekitar, cara melindungi diri saat terjadi bencana, pengenalan jalur evakuasi, hingga simulasi evakuasi mandiri. Anak-anak juga dikenalkan pada peran PMI dalam kegiatan kemanusiaan, pertolongan pertama dasar, serta pentingnya bersikap tenang dan tertib dalam situasi darurat.
Fasilitator SPAB PMI Kota Sukabumi, Dinar Mochamad, menegaskan bahwa program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) merupakan langkah strategis untuk membangun budaya aman di sekolah sejak usia dini. Menurutnya, SPAB dirancang untuk menciptakan satuan pendidikan yang tangguh bencana melalui tiga pilar utama, yakni fasilitas sekolah yang aman, manajemen bencana di sekolah, serta pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB).

“SPAB bukan hanya tentang apa yang dilakukan saat bencana terjadi, tetapi bagaimana sekolah mampu mengurangi risiko melalui perencanaan, kesiapsiagaan, dan edukasi yang berkelanjutan,” ujar Dinar. Selasa (20/1/2026).
Namun demikian, Dinar mengakui bahwa implementasi SPAB di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Hingga kini, masih banyak sekolah yang belum memiliki peta risiko bencana, standar operasional prosedur (SOP) evakuasi, serta latihan kebencanaan rutin yang terstruktur dan berkesinambungan.
Dalam kesempatan tersebut, Dinar juga menyoroti praktik baik yang diterapkan di Jepang. Ia menjelaskan bahwa pendidikan kebencanaan di Negeri Sakura telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Sejak taman kanak-kanak, anak-anak sudah diajarkan mengenali potensi ancaman di sekitar mereka, seperti gempa bumi, kebakaran, dan tsunami, serta langkah-langkah penyelamatan diri.

“Salah satu contoh keberhasilan pendidikan kebencanaan terlihat saat gempa bumi dan tsunami tahun 2011 di Jepang. Sekitar 3.000 siswa SD dan SMP di wilayah Unosumai, Kamaishi, Prefektur Iwate, berhasil menyelamatkan diri dengan segera menuju tempat yang lebih tinggi. Dari sekitar 1.000 korban jiwa di wilayah tersebut, hanya lima yang berstatus pelajar,” ungkapnya.
Menurut Dinar, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari latihan evakuasi yang dilakukan secara berkala, keterlibatan aktif guru dan orang tua, serta pemahaman yang kuat pada diri siswa mengenai apa yang harus dilakukan saat bencana. Bahkan, sejumlah sekolah di Jepang telah dilengkapi dengan ruang perlindungan khusus dan sistem manajemen bencana sekolah yang komprehensif, mulai dari kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, manajemen krisis, hingga rencana pemulihan pascabencana.

Sementara itu, salahsatu Guru Pembimbing PAUD menyambut baik sinergi dengan PMI dalam pelaksanaan sosialisasi SPAB ini. HIMPAUDI menilai bahwa satuan pendidikan PAUD memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak, termasuk menanamkan nilai kewaspadaan, kepedulian, dan kesiapsiagaan sejak dini.
Kegiatan sosialisasi ini disambut antusias oleh para siswa dan guru PAUD. Anak-anak tampak aktif mengikuti setiap sesi, mulai dari simulasi berlindung, berjalan tertib menuju titik aman, hingga permainan edukatif bertema kebencanaan. Para guru berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak satuan pendidikan di Kota Sukabumi.
Melalui sosialisasi SPAB ini, PMI Kota Sukabumi bersama HIMPAUDI Kota Sukabumi menegaskan komitmennya untuk terus mendorong terwujudnya sekolah aman, tangguh, dan berbudaya siaga bencana, dimulai dari jenjang pendidikan paling dasar.




