KOTA SUKABUMI- Matahari siang menyengat ketika seorang ibu rumah tangga melangkah perlahan menyusuri gang sempit di Kampung Cikundul Hilir RW 04, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi. Di kedua tangannya tergenggam beberapa galon kosong dan jerigen yang akan diisi dari mobil tangki bantuan Palang Merah Indonesia (PMI). Langkahnya tampak berat, namun semangatnya tak surut. Baginya, setiap galon dan jerigen yang berhasil dibawa pulang bukan sekadar wadah berisi air, melainkan harapan agar keluarganya tetap bisa memasak, mandi, mencuci, dan menjalani hari di tengah kemarau yang kian panjang.
Tak jauh dari sana, seorang pria lanjut usia memikul dua ember berisi air bersih. Di usianya yang tak lagi muda, ia tetap berjalan perlahan melewati jalan menanjak menuju rumahnya. Ember di kedua tangannya terasa semakin berat, tetapi ia tidak punya pilihan. Air yang dibawanya akan digunakan untuk memasak, mandi, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan minum keluarga.
Bagi warga Cikundul Hilir, air bersih kini menjadi sesuatu yang sangat berharga. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat sumur-sumur warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk mendapatkan air bersih, masyarakat harus menunggu kedatangan mobil tangki bantuan, lalu mengangkut sendiri air tersebut menuju rumah masing-masing.

Pemandangan seperti itu kini menjadi rutinitas. Anak-anak, kaum ibu, para ayah, hingga warga lanjut usia terlihat mengantre sambil membawa ember, jeriken, dan galon. Mereka rela berjalan di bawah terik matahari demi memperoleh beberapa puluh liter air bersih yang menjadi penopang kehidupan sehari-hari.
“Kami bersyukur masih ada bantuan air bersih. Kalau tidak ada, kami bingung harus mencari air ke mana lagi,” ujar seorang warga sambil mengangkat dua galon menuju rumahnya.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata dampak kekeringan yang kini semakin dirasakan masyarakat Kota Sukabumi. Menurunnya debit mata air dan mengeringnya sumur warga membuat akses terhadap air bersih semakin sulit, terutama di wilayah-wilayah yang bergantung pada sumber air tanah.
Merespons kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi kembali menyalurkan bantuan air bersih melalui Operasi Dampak Kekeringan Ekstrem Akibat El Nino 2026. Menggunakan mobil tangki berkapasitas 5.000 liter, PMI memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah musim kemarau.

Selain mendistribusikan air bersih, relawan PMI juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan air secara bijak, menjaga kebersihan wadah penyimpanan air, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat guna mencegah penyakit yang dapat muncul akibat terbatasnya akses air bersih.
Staf Pelayanan PMI Kota Sukabumi, Dinar Mochamad, mengatakan hasil asesmen menunjukkan dampak kekeringan di Kampung Cikundul Hilir RW 04 telah dirasakan sedikitnya 340 kepala keluarga atau sekitar 1.300 jiwa.
“PMI Kota Sukabumi terus berupaya membantu masyarakat yang terdampak kekeringan melalui distribusi air bersih. Berdasarkan hasil asesmen, sedikitnya 340 kepala keluarga atau sekitar 1.300 jiwa membutuhkan bantuan air bersih. Selain distribusi, kami juga mengedukasi masyarakat agar menggunakan air secara hemat selama musim kemarau berlangsung,” ujar Dinar.

Hingga awal Agustus 2026, PMI Kota Sukabumi bersama Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Bumi Wibawa telah mendistribusikan 60.000 liter air bersih ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan di Kota Sukabumi. Pasokan air dari PDAM menjadi dukungan penting dalam memastikan distribusi dapat terus dilakukan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Menurut Dinar, upaya kemanusiaan tersebut akan terus dilaksanakan selama masyarakat masih mengalami kesulitan memperoleh air bersih. PMI juga terus melakukan asesmen di wilayah-wilayah yang mulai terdampak kekeringan agar bantuan dapat disalurkan secara cepat dan tepat
“Respons ini akan terus kami lakukan bersama PDAM. Selama masyarakat masih membutuhkan air bersih, PMI akan terus hadir memberikan pelayanan kemanusiaan,” katanya.

Langkah tersebut menjadi semakin penting karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau tahun ini akan mencapai puncaknya pada akhir Agustus 2026. Dampak fenomena El Nino diperkirakan masih akan memperpanjang periode kering dan meningkatkan potensi krisis air bersih di sejumlah daerah, termasuk Kota Sukabumi.
Bagi warga Cikundul Hilir, setiap tetes air yang berhasil dibawa pulang bukan sekadar memenuhi kebutuhan rumah tangga. Air itu menjadi harapan agar kehidupan tetap berjalan di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Di balik ember, jeriken, dan galon yang dipikul dengan penuh perjuangan, tersimpan kisah tentang ketabahan masyarakat menghadapi krisis air bersih. Langkah-langkah kecil yang mereka ayunkan setiap hari menjadi simbol perjuangan mempertahankan kehidupan, sekaligus menunjukkan bahwa di tengah kemarau yang semakin panjang, semangat gotong royong dan kepedulian kemanusiaan tetap mengalir bersama setiap tetes air yang sampai ke tangan warga.