KOTA SUKABUMI – SMA Negeri Maung 2 Kota Sukabumi memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana bagi peserta didik baru melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Panca Waluya dengan menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi, Jumat (17/7/2026).
Sebanyak 380 siswa baru mengikuti edukasi dengan penuh semangat. Kegiatan ini bertujuan membekali peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di lingkungan sekolah maupun di sekitar tempat tinggal mereka.

Dalam kegiatan tersebut, tim PMI Kota Sukabumi menyampaikan materi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang mencakup pengenalan risiko bencana, langkah-langkah kesiapsiagaan, hingga pentingnya membangun budaya aman di lingkungan sekolah. Materi kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran mengenai teknik evakuasi yang benar dan simulasi bencana yang melibatkan seluruh peserta.
Melalui simulasi tersebut, para siswa diajak mempraktikkan prosedur penyelamatan diri saat terjadi keadaan darurat, mulai dari mengenali tanda bahaya, menjaga ketenangan, mengikuti jalur evakuasi, hingga berkumpul di titik aman sesuai arahan petugas.

Staf Pelayanan Markas PMI Kota Sukabumi, Dinar Mochamad, mengatakan bahwa pendidikan kesiapsiagaan bencana sejak hari pertama masuk sekolah merupakan langkah penting dalam membangun karakter peserta didik yang tangguh dan siap menghadapi situasi darurat.
“Melalui MPLS, kami ingin menanamkan pemahaman bahwa kesiapsiagaan bencana merupakan tanggung jawab bersama. Siswa tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga mampu melakukan tindakan yang tepat untuk menyelamatkan diri sendiri maupun membantu orang lain ketika terjadi bencana,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekolah merupakan salah satu tempat berkumpulnya banyak orang sehingga seluruh warga sekolah perlu memahami prosedur keselamatan dan evakuasi sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.
Program edukasi ini merupakan implementasi dari konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai ancaman bencana. Selain meningkatkan pengetahuan, simulasi juga diharapkan dapat membentuk respons yang cepat, tepat, dan terkoordinasi apabila sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat.