WhatsApp Image 2026-04-22 at 14.15.22

Di Tengah Reruntuhan, Bapak Kamal Menahan Pilu Kehilangan Rumah

KOTA SUKABUMI — Siang itu, panas matahari terasa begitu terik di atas puing-puing rumah yang baru saja ambruk di Babakan Bandung, RT 01 RW 03, Kelurahan Nanggeleng, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Rabu (22/4/2026) sekitar pukul 13.30 WIB.

Di hadapan reruntuhan itu, Bapak Kamal hanya bisa berdiri terdiam. Tatapannya menyusuri sisa-sisa bangunan yang dulu menjadi tempat berteduh, tempat beristirahat, dan tempat menyimpan kenangan bersama keluarga. Kini, semuanya rata dengan tanah—menyisakan duka yang sulit diungkapkan.

Peristiwa tersebut diduga terjadi akibat kondisi rumah yang sudah lapuk dan tidak lagi kokoh, ditambah hujan deras yang terus mengguyur dalam beberapa waktu terakhir. Kombinasi tersebut membuat struktur bangunan tidak mampu menahan beban, hingga akhirnya ambruk secara tiba-tiba. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Di tengah kesedihan itu, kepedulian hadir. Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi bersama pengurus PMI kecamatan dan Sekretaris Lurah Nanggeleng turun langsung ke lokasi untuk melakukan asesmen sekaligus mendistribusikan bantuan kedaruratan kepada korban terdampak. Adapun bantuan yang disalurkan meliputi paket hygiene kit, paket mie instan dan paket makanan biskuit

Bantuan tersebut diserahkan langsung di lokasi kejadian, di tengah puing-puing rumah yang masih berserakan. Kehadiran PMI dan unsur pemerintah setempat tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga memberikan dukungan moral bagi Bapak Kamal agar tetap kuat menghadapi musibah ini.

“Ini merupakan respon bantuan kedaruratan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar korban. Kami berharap dapat meringankan beban yang dirasakan,”

Saat ini, kebutuhan akan tempat tinggal sementara menjadi hal yang paling mendesak. Dukungan lanjutan dari berbagai pihak juga sangat dibutuhkan untuk membantu proses pemulihan pascakejadian.

Di tengah reruntuhan, Bapak Kamal berusaha menahan pilu. Meski kehilangan tempat berteduh, ia tetap menggenggam harapan—bahwa suatu hari nanti, ia bisa kembali membangun tempat untuk pulang.

Di Tengah Reruntuhan, Bapak Kamal Menahan Pilu Kehilangan Rumah

KOTA SUKABUMI — Siang itu, panas matahari terasa begitu terik di atas puing-puing rumah yang baru saja ambruk di Babakan Bandung, RT 01 RW 03, Kelurahan Nanggeleng, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Rabu (22/4/2026) sekitar pukul 13.30 WIB.

Di hadapan reruntuhan itu, Bapak Kamal hanya bisa berdiri terdiam. Tatapannya menyusuri sisa-sisa bangunan yang dulu menjadi tempat berteduh, tempat beristirahat, dan tempat menyimpan kenangan bersama keluarga. Kini, semuanya rata dengan tanah—menyisakan duka yang sulit diungkapkan.

Peristiwa tersebut diduga terjadi akibat kondisi rumah yang sudah lapuk dan tidak lagi kokoh, ditambah hujan deras yang terus mengguyur dalam beberapa waktu terakhir. Kombinasi tersebut membuat struktur bangunan tidak mampu menahan beban, hingga akhirnya ambruk secara tiba-tiba. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Di tengah kesedihan itu, kepedulian hadir. Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi bersama pengurus PMI kecamatan dan Sekretaris Lurah Nanggeleng turun langsung ke lokasi untuk melakukan asesmen sekaligus mendistribusikan bantuan kedaruratan kepada korban terdampak. Adapun bantuan yang disalurkan meliputi paket hygiene kit, paket mie instan dan paket makanan biskuit

Bantuan tersebut diserahkan langsung di lokasi kejadian, di tengah puing-puing rumah yang masih berserakan. Kehadiran PMI dan unsur pemerintah setempat tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga memberikan dukungan moral bagi Bapak Kamal agar tetap kuat menghadapi musibah ini.

“Ini merupakan respon bantuan kedaruratan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar korban. Kami berharap dapat meringankan beban yang dirasakan,”

Saat ini, kebutuhan akan tempat tinggal sementara menjadi hal yang paling mendesak. Dukungan lanjutan dari berbagai pihak juga sangat dibutuhkan untuk membantu proses pemulihan pascakejadian.

Di tengah reruntuhan, Bapak Kamal berusaha menahan pilu. Meski kehilangan tempat berteduh, ia tetap menggenggam harapan—bahwa suatu hari nanti, ia bisa kembali membangun tempat untuk pulang.

Scroll to Top