SUKABUMI – Upaya memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana kini memasuki babak baru. Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Yayasan Saka Warga Indonesia resmi meluncurkan WargaSiaga, sebuah aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang sebagai pendamping digital bagi Relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) dan masyarakat dalam membangun desa yang lebih siap menghadapi berbagai ancaman bencana.
Peluncuran aplikasi ini menjadi bagian dari transformasi digital di bidang pengurangan risiko bencana. WargaSiaga hadir untuk mempermudah masyarakat mengakses informasi, edukasi, hingga panduan kesiapsiagaan secara cepat, praktis, dan dapat digunakan kapan saja melalui perangkat telepon pintar.
Pada tahap awal, aplikasi ini mulai diterapkan di tujuh desa dampingan Program kesiapsiagaan Relawan SIBATi di Kabupaten Sukabumi, yakni Desa Margaluyu, Desa Tegallega, Desa Citamiang, Desa Sukamaju, Desa Ciengang, Desa Cimerang, dan Desa Bojongtugu. Implementasi tersebut diharapkan menjadi model pengembangan desa tangguh berbasis teknologi yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
Direktur Yayasan Saka Warga Indonesia sekaligus pengembang aplikasi WargaSiaga, Alfan Kasdar, mengatakan inovasi tersebut lahir dari pengalaman panjang mendampingi relawan SIBAT di lapangan. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang membutuhkan akses terhadap informasi kebencanaan yang mudah dipahami, praktis, dan dapat digunakan sebagai panduan dalam mengambil langkah sebelum bencana terjadi.
“ Aplikasi WargaSiaga kami kembangkan sebagai pendamping digital bagi relawan SIBAT dan masyarakat. Kami ingin setiap warga memiliki akses terhadap informasi kebencanaan yang benar, mudah dipahami, dan bisa dimanfaatkan kapan saja. Dengan begitu, kesiapsiagaan tidak lagi bergantung pada pelatihan tatap muka semata, tetapi dapat dipelajari secara mandiri melalui teknologi,” ujar Alfan. selasa (7/7/2026).
Ia menjelaskan, berbeda dengan aplikasi informasi pada umumnya, WargaSiaga memanfaatkan teknologi AI yang memungkinkan pengguna berinteraksi secara langsung melalui percakapan layaknya berdiskusi dengan seorang pendamping.
Pengguna dapat mengajukan berbagai pertanyaan seputar kebencanaan, mulai dari potensi risiko di wilayahnya, langkah mitigasi, prosedur tanggap darurat, penyusunan rencana aksi desa, hingga berbagai informasi teknis lainnya. Sistem AI kemudian memberikan jawaban dan rekomendasi berdasarkan kebutuhan pengguna.
“Teknologi AI kami hadirkan agar informasi kebencanaan menjadi lebih mudah diakses oleh siapa saja. Relawan maupun masyarakat cukup bertanya seperti sedang berbicara dengan seorang mentor. AI akan membantu memberikan penjelasan, rekomendasi, hingga solusi yang relevan sesuai konteks pertanyaan,” jelasnya.
Selain menghadirkan fitur AI Coach, WargaSiaga juga dilengkapi berbagai layanan pendukung kesiapsiagaan, seperti informasi risiko bencana, panduan mitigasi, standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan, penyusunan rencana aksi desa, hingga materi edukasi yang dapat dipelajari secara mandiri oleh masyarakat maupun relawan.
Menurut Alfan, seluruh fitur yang tersedia dikembangkan berdasarkan pengalaman para relawan SIBAT selama mendampingi masyarakat di wilayah rawan bencana, sehingga aplikasi tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan nyata di lapangan.
“Kami tidak sekadar membangun aplikasi berbasis AI, tetapi membangun solusi yang lahir dari pengalaman para relawan. Teknologi harus mampu mempermudah kerja-kerja kemanusiaan, mempercepat akses informasi, dan membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat sebelum bencana terjadi,” katanya.
Ia menambahkan, pembangunan ketangguhan masyarakat tidak dapat dilakukan hanya saat terjadi bencana, tetapi harus dimulai jauh sebelumnya melalui edukasi, latihan, dan pemanfaatan teknologi yang mudah dijangkau oleh masyarakat.
“Tujuan utama WargaSiaga adalah membantu masyarakat agar lebih siap sebelum bencana datang. Ketika warga memahami risiko di lingkungannya, mengetahui langkah yang harus dilakukan, serta mampu menyusun rencana bersama relawan, maka dampak bencana dapat ditekan semaksimal mungkin. Itulah visi besar yang ingin kami wujudkan melalui WargaSiaga,” ungkap Alfan.
Ke depan, Yayasan Saka Warga Indonesia bersama PMI akan terus mengembangkan WargaSiaga dengan berbagai fitur baru yang semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan relawan di lapangan. Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan teknologi digital dalam pengurangan risiko bencana hingga menjangkau lebih banyak desa di berbagai wilayah Indonesia.
Sebagai inovasi yang menggabungkan teknologi AI dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat, WargaSiaga diharapkan menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat budaya siaga bencana di tingkat desa sekaligus mendukung terciptanya masyarakat yang lebih tangguh, mandiri, dan siap menghadapi berbagai risiko bencana di masa depan